Kontroversi Dibalik Untaian Musibah di Tanah Air

10 10 2009
سبحن الله

سبحن الله

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Mohon maaf para sedulur, saya hanya pengen sharing bahkan ingin mendapat ‘nasehat balik’ bila apa yg saya kemukakan sangat tidak benar dari kacamata Quran & Hadist. Jelas pula ini bukan ‘menggurui’ apalagi saya baru kemaren sore ‘ngajinya’. Tapi minimal kita sama-sama bisa mengerti, baik secara ‘ilmu manusia’ maupun ‘maha ilmunya Alloh’. Saya sangat yakin poro sedulur sudah ‘kenyang’ dengan uraian2 berikut tapi sekali lagi saya hanya belajar merangkum & menyampaikan kembali untuk saling mengingatkan
Semenjak Gempa susul menyusul di Tanah air, pengamat gempa dadakan tiba2 jd selebriti, bahkan ustadz (bukan mubaliq) ikut2an jd peramal gempa di masjid2 & menvonis sebagai ‘azab’ akibat perbuatan manusia penghuni tempat azab berada. Mungkin saja bencana yg terjadiadalahazab Alloh, tapi Alloh akan mengadili seseorang atau suatu kaum dgn ada sebab2 sebelumnya. Kullu syai ‘in sababa. Tidak ujug2.Dan, kalau karena azab, boleh jadi, Jakarta adalah kota pertama yg mendapat prioritas menerima azab. Karena, di kota Jakarta dan sekitarnya, tinggal orang2 yg tidak saja banyak melanggar perintah Alloh (dlm ukuran kebanyakan orang), tetapi juga, mereka yg makan hutan2 Kalimantan , jalan2 aspal, jembatan2, dan makan makanan2 tak wajar lainnya. Perlu juga diketahui dari ‘ilmu manusia’ ada faktor lain yg menyebabkn itu gempa, namanya geologi. Siapa pun yg tinggal di sepanjang pantai barat Sumatra , pantai Selatan Jawa, dst, daerah itu akan tetap potensi untuk gempa, karena memang di dekat zona subduksi. Lain halnya orang yg tinggaldi Kalimantan , kendatipun mereka tak pernah sholat, tak pernah ‘ngaji’, misalnya, tidak akan terkenagempa (besar).

Menurut Islam, dalam kehidupan ini memang ada yang dinamakan sunnatullah atau hukum Allah atau hukum alam atau sering disebut juga sebagai natural law (nature’s law). Contoh sederhananya seperti batu yang dilempar ke atas akan turun lagi ke bumi berdasarkan hukum gravitasi. Contoh yang lain, sifat dasar air adalah dingin sementara sifat api adalah panas dan membakar. Di antara hukum alam yang lain, secara umum orang yang rajin belajar akan pandai dan orang yang hemat akan kaya.
Termasuk juga peristiwa-peristiwa alam seperti longsor, banjir, atau gempa bumi baik yang tsunamigenic maupun yang bukan, semua selaras dan comply dengan hukum Allah sang pencipta jagat raya ini. Kesemua ini juga bisa dijelaskan secara fisis dan saintifik (insyaAlloh akan saya jelaskan tentang gempa bumi & daerah mana aja yg potensinya tinggi di lain waktu).

Tapi seperti yg kita ketahui dalam kehidupan ini dikenal juga apa yang dinamakan Qadarullah (taqdir atau ketetapan atau kehendak Allah). Kehendak Alloh tentunya sesuai dengan apa saja yang dikehendaki Alloh baik itu yang terasa menyenangkan hati kita berupa kenikmatan maupun yang terasa tidak menyenangkan seperti kematian atau musibah lainnya, dsb.

Yang harus diketahui juga, bahwa Qadarullah ini terkadang selaras dengan sunnatullah terkadang juga tidak karena terserah dan suka-suka Allah saja. Sebagai contoh, dalam AlQur’an diceritakan ketika nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh raja Namruz, maka based on sunnatullah, nabi Ibrahim
mestinya gosong jadi abu tanpa sisa sedikitpun jasadnya. Namun Qadarullah berbicara lain, api yang sejatinya sifat fisisnya adalah panas maka, suka-suka Allah untuk merubah hukumNya sendiri berkaitan tentang api tersebut yang sifat awalnya panas berubah jadi dingin sehingga nabiyullah
Ibrahim malah menggigil. Begitu juga ketika laut merah harus terbelah agar bangsa bani israil bersama nabi Musa bisa berjalan melewati lautan tersebut saat dikejar Fir’aun (Ramses II) yang jasadnya masih tersimpan di Egypt sampai saat ini. Jadi memang kehendak Allah ini tidak mesti selalu selaras
dengan sunnatullah- Nya. Qadarullah ini berkaitan juga dengan biidznillah atau dengan izin dari Allah.

Hadits yang bisa kita renungkan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي
كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Hal ini kami ceritakan) agar engkau tidak terlalu bersedih ketika terkena
bencana atau tidak terlalu bergembira ketika luput daripadanya. Dan sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS: Al-Hadid: 22-23).

“Alloh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash radhiyallahu ‘anhu)

“Jika Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Alloh akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Alloh menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Alloh akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak.” (HR.Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu).

Semoga musibah ini adalah bukti bahwa Alloh menghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:

“Barangsiapa dikehendaki oleh Alloh suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Alloh akan menimpakan baginya musibah.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
“Cobaan akan terus senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah (meninggal) dan tidak ada padanya satu dosapun (tidak menanggung satu dosapun).(HR. Attirmidzi dari shahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu).

Sebenarnya kalau kita sadari, ujian atau cobaan bagi orang lain adalah ujian atau cobaan bagi yang lainnya. Terlepas dari momen-momen kejadian musibah yang bertepatan atau tidak bertepatan dengan terjemahan tertentu ayat-ayat di AlQur’an. Dan meskipun semua faktor-faktor terjadinya musibah tersebut sifatnya scientific dan bisa re-engineering/ mitigasi, dsb, sejatinya kita sebagai manusia berusaha merendahkan diri dihadapan Alloh dan kekuasaanya yang serba
maha, yang menghidupkan kita, yang mematikan dan maha berkehendak atas segala sesuatu makhluk ciptaan-Nya. Kita hanya bisa berencana tapi Alloh maha berkehendak. Man proposes, God disposes. We are nothing in front of God!

Sebenarnya hakikat dari sesuatu itu disebut rahmat atau ujian, sangat mudah parameternya. Cukup tanyakan bagi yang tertimpa penderitaan, apakah penderitaannya itu membuatnya lebih dekat atau lebih jauh dengan Alloh yang menciptakannya atau tidak? kalau itu membuatnya lebih dekat, hakikatnya penderitaan itu adalah rahmat baginya.

Sebaliknya tanyakan kepada yang mendapat kesenangan duniawai, apakah hal tersebut membuatnya lebih dekat atau lebih jauh dengan Alloh yang telah memberikannya kenikmatan tersebut atau malah menjauhkannya? kalau membuatnya lebih jauh, sungguh sejatinya itu adalah musibah.

Jadi dapatkah dikatakan musibah adalah Ujian?

Musibah adalah bentuk ujian dari Alloh, dapat berupa hal yang baik ataupun yang buruk.

Namun perlu kita pahami bahwa definisi hal baik dan hal buruk adalah berasal dari logika manusia.

Hal yang baik dan buruk menurut manusia bukanlah hal yang mutlak, terkadang lebih ke problema “rasa” saja. Beberapa ulama mengatakan bahwa buruknya takdir hanya dilihat dari sisi mahluk saja, sedangkan ditinjau dari Sang Pencipta Takdir, semua takdir adalah baik.

Musibah apapun yang menimpa, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari enam perkara :

Pertama, sebagai ujian keimanan.

Kedua, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan.

Ketiga, sebagai bukti cinta Alloh terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Alloh mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”. (HR. Ahmad dan al-Thabrani)

Keempat, sebagai tanda bahwa Alloh menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Alloh bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah.

Kelima, sebagai teguran atau peringatan.

Keenam, sebagai siksa Alloh di dunia.

Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Alloh meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”. (HR. Abu Dawud)

“Siapapun yg tertimpa musibah, hendaknya ia menyadari bahwa Zat yang menimpakan cobaan adalah Hakim yang seadil-adilnya, Tuhan yang Maha Penyayang. Sesungguhnya, cobaan yang Dia tempakan tidak untuk menghancurkannya, tidak untuk menyiksanya, dan tidak pula untuk membinasakannya. Namun, Dia menempatkan musibah untuk menguji kesabaran, keridhoan, dan keimanan. Ujian dan musibah datang demi mendengar kerendahan dan keimanannya, demi melihat simpuh khusyuk di hadapan-Nya, teguh disisi-Nya, luluh di hadapan-Nya, dan pekikan aduan kepada-Nya”

Dalam suatu hadits shahih Rasulullah memang pernah mengatakan bahwa, ketika suatu kaum atau bangsa diadzab maka adzab tidak akan pilih-pilih. Siapapun akan terkena adzab, tidak peduali dia orang sangat baik di mata orang lain maupun orang jahat. Dan kata Rasulullah, seseorang kelak akan
dibangkitkan sesuai dengan keadaan dan kondisi keimanannya masing-masing ketika bencana itu datang. Itulah sebabnya kita perlu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan, Addina nasihatan. Ada yang mengatakan bahwa dunia ini ibarat perahu yang sedang berlayar, karena itu ketika ada salah satu penumpang membocori kapal atau perahu tsb maka hendaknya kita mencegahnya
atau kita semuanya akan tenggelam. Disinilah kenapa amal ma’ruf (menganjurkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah keburukan/kerusakan ) disuatu negeri diperlukan atau atau “perahu dunia” ini akan tenggelam?
Tentunya dengan cara-cara yang baik dan wise, bil hikmah wal mau’idhatul hasanah…

Let’s help them at least by praying them! Semoga gempa ini adalah bukti kecintaan Alloh terhadap saudara-saudara tercinta kita di Padang Pariaman Sumbar utamanya para sedulur jamaah dan mudah-mudahan menjadikan mereka syahid dan syahidah serta penggugur dosa-dosanya. Amiin…
Sesungguhnya kebenaran hanyalah dari Alloh, kesalahan atau salah kutip Al-quran/hadist ada pada penulis yg serba kekurangan ini.
Alhamdulillah Jazakumullahu khoiran.
E-mail dari sahabat: Irfan Omphenk, Qatar



The End of Noordin M Top Terrorism Journey

17 09 2009
Congratulation DENSUS 88!

Congratulation DENSUS 88!

الحمد لله رب العلمين atas kebesaran-Nya, di penghujung Ramadhan yang barokah ini kerja keras POLRI membuahkan hasil yang membanggakan. Sebanyak 7 orang yang diidentifikasi sebagai gembong terroris telah tertangkap di Solo, 4 diantaranya dalam keadaan tewas tertembak setelah melalui drama penyergapan yang berlangsung dari pukul 23.00 malam tadi hingga berakhir pagi ini 17/09.

Dalam press conference di Mabes POLRI hari ini 17/09, Kapolri telah mengkonfirmasi bahwa salah satu dari 4 yang tewas bisa dipastikan dan dipertanggung jawabkan secara Yuridis Formal adalah Noordin M Top berdasarkan 14 titik kesamaan pada sidik jari dan anggota tubuh lainnya.

Untuk itu, saya sebagai warga negara dan umat muslim di Indonesia menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kapolri dan jajarannya, khususnya SATGASUS DENSUS 88 Anti Terror atas prestasi yang gemilang ini. Namun perjuangan belum selesai, ancaman terror setiap saat bisa saja datang maka untuk itu segenap warga dan komponen bangsa seharusnya bersatu padu dan meningkatkan kewaspadaan pada setiap gerak-gerik yang mencurigakan dan aktivitas radikal yang mengatasnamakan jihad. Bravo POLRI, Bravo Densus 88. Sekali lagi kita patut bersyukur atas pertolongan-Nya. الحمد لله رب العلمين




Wadah Besar dan Bisa Menampung Lama.

14 09 2009

by

Bambang Kusumanto

بسم الله الر حمن الر حيم

Pahala di malam Qodar itu bagaikan curahan air hujan dari langit sepanjang malam. Barang siapa yang mau menampung air hujan itu maka dia akan mendapatkan air itu. Barang siapa yang wadahnya lebih besar dan mau nadahi lebih lama maka dia akan mendapat air lebih banyak dari yang lainnya. Itulah gambaran hujan pahala dimalam Qodar.

Orang yang mengerjakan semua amalan2 yang pol, seperti solat2 sunnah, baca Quran, sodaqoh, itikaf, wirid2 dll di malam itu, bagaikan orang yang menampung air hujan dengan wadah yang besar. Orang yang cuma solat thok, sodaqoh thok, ya wadahnya lebih kecilan.

Orang yang beramal ibadah sejak awal malam, sampai datangnya subuh terus menerus maka dia mendapat pahala jauh lebih banyak dari pada yang cuma melek sebentar lalu tidur dimalam Qodar.

Maka adalah empat  golongan yang beruntung dan satu golongan yang rugi:

Satu, orang yang mempunyai wadah besar dan mau menampung lama; ini yg paling pol.
Dua, orang yang wadahnya kecil tapi mau menampung lama,
Tiga, yang wadahnya besar tapi mau menampung sebentar, ini dua gol yang juga beruntung.

Empat, yang wadahnya kecil dan nampunya sebentar, wapaun paling buncit tapi masih beruntung.

Namun ada satu yang sangat rugi dan cilakak, yaitu orang yang tidak punya wadah dan tidak mau meluangkan waktu barang sedikitpun untuk menikmati curahan hujan deras pahala pada malam itu, yaitu orang yang sama sekali tidak ingat pada Allah dan malah tidur atau memakai waktunya untuk hal hal yang tidak manfaat.

Mugo2 kita semua termasuk dalam golongan yang pertama, amin, ya Robbal Alamin.

Semoga Alloh selalu paring aman selamat lancar manfaat dan barokah selalu. Amiin

الحمد لله جزا كم الله خيرا




Testimony untuk Achsan Indriadi

11 08 2009

ki-ka: Ane, Harry, Achsan

“Kataballohu maqoodiirol kholaaiqo qobla ayyakhluqossamaawaa ti
wal ardho bi khomsiina alfa sanatin. (Allah telah menulis qodar-qodar nya makhluk limapuluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi – H.R. Muslim dalam Kitabul Qodar)”

***

Sore itu tidak sama seperti sore yang lain. Di dalam benak ku, semua mendadak menjadi gelap. “Masya Allah”, lafadz ku dalam hati dengan bibir bergerak. Aku kaget luar biasa. Kabar yang kudapat dari e-mail,dari sabahat yang sudah seperti adik ku sendiri Dawud Abd, benar-benar membuat sekujur tubuhku lemas seperti tak bisa di gerakan. Achsan Indriadi, sahabatku yang baik divonis dokter terkena penyakit yang sekarang paling ditakuti, H5N1 alias flu burung. Penyakit yang mematikan. “Ya Allah”, kami pasarah padamu. Aku terduduk lemas, semua mendadak gelap dalam benak ku.

“Kenapa harus Achsan? Kenapa tidak yang lain nya? Kenapa bukan koruptor? Kenapa bukan teroris? Kenapa..kenapa? ? kenapa???.” Kalimat Tanya itu menyeruak seperti tak berhenti dan tidak menemukan tanda titik untuk menghentikan nya. Zikir dan do’a selepas sholat ashar, semakin kurasa kuat sekali. Bahkan aku merasakan do’a-do’a yang kulafaldzkan sangat bertenaga. aku berusaha berdamai dengan jiwaku (Allah, pertolonganmu pasti dekat)

Achsan, adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta di bilangan Jakarta Utara. Dalam setahun ini (2009), Achsan, seperti ceritanya padaku, merasa sedang dicoba oleh Allah. Ia juga bilang sedang merasakan manisnya keimanan, sampai dia merasa sekarat. Lelaki kelahiran 15 November 1973 itu berkali-kali bercerita tentang mimpi-mimpi yang dialaminya ketika dia tak sadarkan diri, akibat panas yang tinggi.

Di tahun 2009 ini, sudah 3 kali Achsan masuk rumah sakit. di bulan Februari ia terkena lumpuh kaki kanan akibat cedera tulang punggung. Bulan April ia kembali masuk rumah sakit akibat HNP (syaraf tulang punggung terjepit) yang mempengaruhi fungsi organ dalam.

***

Aku kembali tertegun tak bisa berkata-kata. Email dari Dawud, kembali kubaca dengan dada bergetar hebat. Achsan sakit lagi, kali ini tak main-main. Flu Babi. Aku diam, berusaha untuk kuat melanjutkan membaca e-mail Dawud dengan sangat hati-hati. Pikiran ku melayang jauh, membayangkan betapa sedih nya hati anak-anak Achsan. Amorita (10 th), Achmar (3,5 th), serta Aimar (1,5 th), juga istrinya Nina Marlina. Meski kutahu, istri dan ketiga anak Achsan, bukanlah orang sembarangan, mereka sangat dekat dengan kehidupan Agama serta sangat penyabar. Bathinku berkata sendiri, tetap tak mudah menghadapi ini semua.

Kabar terakhir, di bulan Juli Achsan masuk rumah sakit lagi, tapi kali ini sangat mengejutkan. Ia sakit akibat burung dan Flu babi. Otomatis sejak bulan Januari hingga hari ini Achsan tidak dapat bekerja dan mencari nafkah dan dan meelakukan seabrek aktivitas positif lainnya

Dalam catatan Achsan yang sempat ku baca, di Bulan Juni yang lalau, ia memang sempat pergi tugas ke luar negeri, tepatnya ke Pakistan, namun hingga akhir bulan Juni jsepulang dari Luar Negeri, Achsan tak merasa ada sesuatu perubahan dalam tubuhnya. Semua berjalan normal dan biasa saja. Ia pun tidak mengalami sakit pernafasan. Hari hari berjalan normal dan ia beraktivitas dan bekerja seperti biasa

Pada tanggal 9 dan 10 Juli, Achsan bahkan masih sempat pergi mengisi liburan bersama anak dan istrinya, ke beberapa tempat pedesaan di Depok dan Bogor, dan kerumah orang tua nya. Secara beruntun setelah pulangdari liburan mereka sekeluarga sakit pilek. Achsan sendiri merasakan masuk angin yang berat. Karenamerasa dirinya kecapean, ia pun melakukan pijat refleksi, di rumah seorang teman nya Taufik Wibisono. Namun flu yang dirasakan Achsan tak kunjung hilang. Selama 3 hari Achsan minum obat flu tetapi tidak juga menunjukan kondisi yang membaik. Achsan memutuskan memeriksakan diri di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Saat itu suhu tubuh nya 41 dcelcius, dan selalu muntah. Komdisi Achsan yang sangat tidak memungkinkah akibat muntah berat, dokter menyarakan Achsan dirawat di rumah sakit itu.

***

Hingga hari kelima Achsan dirumah sakit, tidak ada perubahan yang berarti, bahkan semakin parah. Dokter pun sedikit panik, karena Achsan sudah demam tinggi (hingga 41,5 dcelcius) sudah 8 hari. Mulai hari kedelapan demam tinggi Achsan disertai batuk dengan mengeluarkan darah segar, praktis ejak itu pernapasan nya mulai terganggu, dan Achsan pun bernafas dibantu dibantu oleh oksigen.

Dokter berusaha keras membantu Achsan untuk sembuh dari penyakitnya. Beberapa obat diinjeksi masuk ke dalam tubuhnya, malah mengakibatkan lidah dan tenggorokan Achsan terasa terbakar (hingga saat ini masih belum bisa merasa dengan baik). Lambung Achsan pun sudah tidak bisa menerima makanan dan minuman, selalu dimuntahkan. Puncaknya, sample dahak Achsan langsung di kirim ke Depkes. Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan Laboratorium keluar. Hasilnya mengejutkan semua anggota keluarga. Achsan terkena H5N1, alias flu burung. Torax nya pun s dirontgen ulang secara lebih detail, dan hasilnya Achsan pneumonia berat dan sebagian paru-paru nya sudah terisi air.

“Allah, engakau begitu dekat”, gumamku panjang. Kembali aku mengingat Achsan yang sedang berjuang sekuat tenaga dalam do’a nya untuk sembuh

***

Pada hari yang sama Achsan dirujuk ke RS persahabatan (sentral penderita flu burung), tetapi karena ICU nya penuh, Achsan dirujuk ke ICU RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Saat dipindahakan Achsan merasa terhina sekali, “Saya merasa terhina, saya dipindahkan oleh staf kesehatan perpakaian isolasi komplet seperti di film Hollywood”, tuturt Achsan padaku. Jalan, gang, elevator semuanya dibersihkan dari pengunjung saat Achsan lewat. Semua petugas keamanan menggunakan masker. Semua mendadak horror. “ Kok , saya seperti punya penyakit nista”, tutur achsan saat itu, seperti diceritakan nya padaku. Achsan tiba di ICU penderitaan tubuh nya pun dirasakan nya bertambah. Infus saya bercabang 3, plus selang injeksi, ia rasakan semakin membuat penderitaan nya semakin bertambah. Achsan juga merasakan kerongkongan semakin tak enak dirasakan nya, karena dikasih selang. Bukan itu saja, Achsan semakin merasa tak nyaman, ketika kateter dipasang untuk memudahkan nya buang air kecil. Achsan sempat menangis, ketika merasa tak kuat untuk berdiri dan buang air besar. Pup (BAB) pun dilakukan dengan menggunakan pampers. “Masya Allah, betapa tidak enak dan nyaman nya”, pekik Achsan

Saat-saat bernafas dirasanya tak nyaman. Achsan bernafas dengan masker oksigen (ia menolak intubasi), disamping itu juga dipasang alat rekam jantung dan saturasi.

( diruangan kaca kecil yang sangat berisik, dengan suara peralatan medic, dalam kondisi lelah namun masih sadar, Achsan melihat ruang-ruang ICU diisi oleh beberapa pasien yang memang sudah sekarat, kebanyakan kondisinya tidak sadar)

Keesokan harinya, tepatnya hari jum’at yang Achsan lupa tanggal nya ada hal yang membuat Achsan bertambah lemas. Achsan menjalani pemeriksaan loboratoriom ke dua. Hasil lab hari itu, ternyata menunjukan hasil yang mengerikan. Achsan bukan saja positif positif H5N1 tapi juga H1N1 alias flu babi (yang konon berasal dari Meksiko).

Seperti diketahui, flu burung dan flu babi adalah penyakit baru yang cukup berbahaya. Penyakit ini mudah sekali menular hanya dengan kontak fisik. Bahkan jika terlambat ditangani, penyakit ini juga bisa memakan korban jiwa. Dengan kondisi semacam ini,

….siapapun tak bisa menolak qodar Allah………

Di ICU Achsan masih dalam keadaan lemah. Tekanan darah sistole nya selalu dibawah 100, dan detak jantung lambat (hanya 15 hingga 25 denyut per menit), sementara oksigen darah Achsan hanya 50% dari normal. Achsan lebih sering tertidur dibanding terbangun, bahkan secara rutin perawat membangunkan Achsan agar tetap tersadar dan tidak pingsan.

Achsan berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan. Dalam panas tinggi dan menderita penyakit mengerikan dua sekaligus, ia masih tetap berzikir, berdo’a dan pasrah pada Allah. Kepasrahan Achsan, mengingatkan saya pada sebuah kisah yang berjudul Struggling to Surrender – berjuang untuk berserah. Sungguh Achsan sedang berjuang dan berserah diri pada Allah

“Saya merasakan manis nya keimanan”, tutur Achsan padaku. Saat ia dirumah sakit, saudara seta teman-teman nya sealu setia menemani. Ada saudaranya yang sudah menyiapkan pasir untuk Tayamum dalam plastic kresek hitam, untuk dia berwudhu

Ia mengaku, setiap perawat selalu bertanya ini apa? “ ini obat special”, ujar nya tanpa mau memperpanjang obrolan, karena ia merasa lelah. Setiap waktu sholat ada saja orang yang mengingatkanya.

Syukurnya, istri Achsan membekali ekali Quran dan buku doa. Meski sakit tak terperi, Achsan berusaha membaca Al-Qur’an yang selalu berada tak jauh dari tangan nya

Di ruangan sunyi dan terisolir itu, Achsan sangat terasa bisikan bisikan syetan untuk tidak sabar, untuk merasa berat melakukan ibadah sholat, sering dibuat mimpi-mimpi yang melemahkan keimanan, untuk menyerah dengan keadaan dan pasrah pada perasaan lemah. sesekali bisikan untuk putus asa, dan yang parah adalah prasangka buruk pada Allah

innal’abda idza sabaqot lahu minnallooh manzilatun lam yablugh haa bi’amalihi ibtalaahulloh fii jasadihi au fii maalihi au fii waladihi summa shobbaro’alaa dzalik summattafaqoo hattayub lighohul manzilatallatii sabaqot lahu minnalloohi ta’alaa – sesungguhnya seorang hamba Allah ketika telah mendahului padanya (qodar) drajat dari Allah yang dia tidak bisa mencapai dengan amalan nya, maka Allah member cobaan padanya, di dalam jasadnya atau hartanya atau anak nya, kemudian Allah member lagi kesabaran pada nya dalam menghadapi cobaan tersebut sehingga Allah menyampaikan padanya derajat yang telah di qodar untuknya disisi Allah ta’ala. (HR. Abudawud)

Tapi semua itu, bisa dijalani Achsan dengan baik. Pada saat inilah nasehat, ajakan berdoa, peringatan untuk sholat bisa dengan segera menghilangkan pengaruh-pengaruh syetan tadi. Semangat itu didapatkan Achsan tiap hari.

Semangat untuk sembuh dan berharap pertolongan Allah, semakin kuat dirasakan Achsan ketika suatu siap dia melihat pasien baru masuk ke ruang depan dimana Achsan dirawat

“di ruangan yang ada di depan saya datang seorang Bapak berusia atas 50 tahun. Ia datang dalam keadaan lebih bugar dari saya, dan dengan kasus yang sama dengan saya (H5N1 & H1N1), hanya bertahan sehari dan besoknya meninggal. di ruang sebelah, ada bocah usia 5 tahun, Masuk dengan Pneumonia seperti saya, dan saat 4 hari saya di ICU, bocah tersebut meninggal. Rasanya dekat sekali saya dengan maut” ungkap Achsan.

Tapi sebaliknya, melihat kondisi itu malah membuat ia tambah semangat untuk sembuh. Tidak ada perasaan takut atau getir pada saat itu, tapi yang ia rasakan adalah rasa penyesalan atas perilaku saya selama ini, yang kurang mengepolkan ibadah

(dalam hati Achsan ingat suatu dalil, setiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan mati itu datangnya sewaktu-waktu)

Achsan sempat tak sdarkan diri. Dalam kondisi tak sadar itu, ia bermipi dan menngingat dengan jelas mimpinya. Dalam mimpi itu tiba-tiba ada sosok yang menunjukan pilihan-pilihan pada Achsan. Pilihan baik atau buruk, pilihan sukses atau gagal, pilihan hidup atau mati. Semua pilihan yang baik, diwakili dengan arah kanan, pilihan yang buruk di wakili dengan arah kiri

Achsan pun memilih arah kanan. Dalam perjalanan nya kea rah kanan, ternyata Achsan di ajak kesebuah gunung, dimana gunung itu dikelilingi oleh jurang yang sangat dalam. Dalam mimpi itu ia bertemu banyak orang yang sedang kehausan. Digunung itu tak ada air. Yang tak sabar memilih lompat ke dalam jurang yang dalam, dan mati tak kembali

Achsan tetap bertahan dalam kehausan dan ia tak mau masuk dalam jurang itu. Saat terjaga, panas badan nay menurut. Hasil pemeriksaan terakhir, Achsan sembuh dari kedua penyakit yang mengerikan itu

Achsan merasakan hadir sebagai ksatria baru dalam hidupnya setelah sembuh. Ksatria yang kusebut disini buklanlah ksatria bertopeng atau ksatria dalam pewayangan. Melainkan ksatria dalam diri, berjuang, beribadah pada Allah

Kata Nabi Ibrahim: “Wa idzaa maridltu fa huwa yasyfiin” - dan ketika sakit aku, maka Dia yang menyembuhkan.

Menuntaskan tulisan ini, aku teringat sebuah puisi

Ke mana pun kau menoleh
Kita bakal bertemu
Karena kau hanya daging

Kemanapun kau menoleh
Kita bakal bertemu
Karena kau hanya tulang
bakal merapuh dalam sendiku

kalimat-kalimat dahsyat dalam sajak Gus tf, yang bertajuk “Bakal”, tahhun 2001 itu, seperti luruh dalam jiwaku.

Achsan aku belajar dari kisahmu. Tetap semangat dan hebat, saudaraku

Bumi Allah, 11 Agustus 2009




Alih-Alih Mati Syahid, Malah Mati Sangit!

22 07 2009
Suicide Bomb Operator

Suicide Bomb Operator

JAKARTA BOMBING,

I was so shocked and still shock tonight……. Terrorist attack!

Kolam kebencian memang tak bertepi. Dia bisa menembus ajaran agama dan kitab suci. Tak perduli bangsa, tak perduli keluarga, tak perduli anak dan istri. Bahkan pada diri sendiri pun tak dihargai. Bunuh diri seakan menjadi dogma baru, agama baru di atas lintas ajaran agama yang ada. Menuju kebahagiaan yang hakiki, katanya. Jalan surga, katanya.

Sebagai muslim saya tidak habis mengerti, bagaimana hal yang demikian itu bisa diatasnamakan agama. Islam mengajarkan keluhuran. Kalau berperang pun dengan adab yang santun. Dilarang membunuh perempuan dan anak-anak. Memegang teguh perjanjian. Islam tak pernah mengajarkan bunuh diri apalagi dalam perang. Hanya orang yang mati gaya, berputus asa, mempunyai kefahaman bunuh diri sebagai bagian dari jihad dalam islam. Kesesatan pemikiran yang nyata! Padahal, sejatinya islam melarang putus asa dan menganjurkan pengikutnya untuk bersabar dalam menghadapi segala situasi yang ada. Karena pertolongan Allah pasti akan datang.

Sebagai anak manusia saya tak habis pikir, bagaimana hal itu bisa disebut jalan kebahagiaan. Apakah benar kebahagian diperoleh dengan membuat kesengsaraan orang lain? Ada 9 orang meninggal dan 50 orang terluka. Dan penderitaan itu bertambah lagi dari orang-orang kerabat korban. Bukankah kebahagiaan didapat dengan banyak memberi cinta, memberi kasih dan memberi maaf kepada sesama? Bisa jadi kebencian dan kemarahan bisa timbul dan menggelora lagi dari kerabat korban yang tak bersalah. Apakah benar kebahagiaan diperoleh dengan cara menyakiti diri? Bukankah kebahagiaan adalah bagaimana menunaikan kewajiban, memenuhi hak - hak diri dan kemudian menghormati hak - hak orang lain di sekitar?

Sebagai warga negara saya tak habis akal, apakah demikian itu yang dikatakan jalan kedamaian? Kenapa masih ada orang yang iri dengki terhadap keadaan yang mapan dalam kehidupan bernegara ini? Hormatilah perbedaan dan kebinekaan. Sebab semua orang terlahir dengan pemberian yang telah ditentukan. Nikmatilah keragamannya. Jangan dijadikan sebab kemurkaan dan kolam kebencian. Hitam, putih, kuning dan merah adalah anugerah yang membuat warna kehidupan ini menjadi indah. Tinggi, rendah, lurus, keriting, ngombak adalah model yang membuat sedap pandangan mata, maka cintailah. Sebelum semua berubah menjadi beban yang harus dilunaskan.

Jangan ada lagi bibit kebencian dalam hati. Sebab dia sungguh sangat mematikan, apalagi jika pelepasannya dengan nafsu yang mendalam. Dia bisa menjadi bom dan yang lebih dahsyat lagi Bukan mati syahid seperti yang diharapkan, tapi mati sangit. Bukan mati mulyo, tapi mati nistho - konyol. Ringankanlah beban hidup kita, sehingga tak perlu lagi: MEMENDAM PENYAKIT HATI diman kebencian membelenggu diri ini, membutakan mata hati dan nurani. (FA)

نا عذ با لله من ذليك




Maafin Dita, Dita Sayang Ayah

30 06 2009
Dita bikin di sekolah buat Ayah

Dita bikin di sekolah buat Ayah

…. baca ceritanya, tidak hanya membuat mata berkaca-kaca, namun lebih penting dari itu ada hikmah di dalamnya, selama ga ganggu kerja tentunya…!

————————————————————–

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang
dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampakjelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan
kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu
rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah
padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik … kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa… Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa
menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu.. Si ayah sengaja membiarkan
anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah
angan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari
bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunyaringkas. . “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhubadan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibubagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa duniaberhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah
pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu
mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.




Childern Learn what They Live

15 06 2009
Semoga Ganis menjadi Waladun Sholihat, Al Mar'atussholihat

Semoga Ganis menjadi Waladun Sholihat, Al Mar atussholihat

FAJAR - Cikarang  │15 JUNI 2009,  19:19:09 bbwi│

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun tak terasa kita sekarang sudah dewasa. Alhamdulillah hingga sejauh ini liku-liku hidup telah dilalui dan semua itu tidak lepas dari bimbingan kedua orang tua kita yang dengan sabar, penuh cinta dan kasih sayang, tulus penuh pengorbanan telah membina kita sehingga terbentuklah diri kita menjadi pribadi, menjadi karakter yang dapat menghadapi tantangan hidup hingga saat ini.

Dan sekarang, kitalah yang menjadi orang tua bagi anak-anak kita, sejuta harapan yang baik bagi kebahagiaan anak-anak kita menjadi suatu motivasi dalam membina dan membesarkan generasi penerus darah daging kita dimasa yang akan datang.

“Seorang anak akan menjadi Yahudi atau Nasrani tergantung (bimbingan) orang tuanya.”     (Al Hadits)

If a child lives with criticism,

He learns to condemn.

Jika anak hidup dalam kritikan,

Ia belajar menyalahkan.

If a child lives with hostility,

He learns to fight.

Jika anak hidup dalam permusuhan,

Ia belajar berkelahi.

If a child lives with ridicule,

He learns to be shy.

Jika anak hidup dalam ejekan,

Ia belajar menjadi rendah diri.

If a child lives with shame,

He learns to feel guilty.

Jika anak selalu dipermalukan,

Ia belajar merasa bersalah.

If a child lives with tolerance,

He learns to be patience.

Jika anak hidup dalam toleransi,

Ia belajar bersikap sabar.

If a child lives with encouragement,

He learns to confidence.

Jika anak selalu diberi semangat,

Ia belajar percaya sendiri.

If a child lives with praise,

He learns to appreciate.

Jika anak hidup dalam pujian,

Ia belajar menghargai.

If a child lives with fairness,

He learn to justice.

Jika anak hidup dalam keadilan,

Ia belajar bersikap adil.

If a child lives with security,

He learns to have faith.

Jika anak hidup dalam rasa aman,

Ia belajar memiliki keyakinan.

If a child lives with approval,

He learns to like himself.

Jika anak hidup dalam pemahaman,

Ia belajar meyukai dirinya.

If a child lives with acceptance and friendship,

He learns to find love in the world.

Jika anak hidup dalam penerimaan dan persahabatan,

Ia belajar menemukan cinta dalam hidup.

(Taken from: Ronnie, Doni - The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teacher)

Terlepas dari harapan yang memotivasi kita dalam membina anak-anak, lebih jauh di dalam Al Qur’an surat At Tahrim orang-orang beriman diperintah oleh Alloh SWT untuk menjaga dirinya dan membina keluarganya agar selamat dunia akhirat yaitu:

$pkr’¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ

(Q.S. At Tahrim: 6)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Bahkan kita para orang tua mempunyai andil dalam menentukan umat manusia dimasa yang akan datang, bagaimana para orang tua membina anak-anaknya sehingga menjadi hamba Alloh yang faqih dan mengerti hukum-hukum Alloh dan Rasulnya.

هَلاََكَ اُمَّتِي عَلَي يَدَيْ اُغَيْلِمَةٍ سُفَهَاء

(رواه البخاري)

Artinya: Rusaknya umatku disebabkan karena generasi muda yang tidak faham agama

Jika kita gagal membina anak-anak kita, maka umat yang akan datang akan terdiri dari manusia-manusia sufaha yang tidak lain adalah anak-anak kita yang telah beranjak menjadi dewasa. Sehingga tatanan kehidupan saat itu tidak mengerti larangan dan perintah Alloh dan Rasul, tidak mengenal halal harom, tidak mengerti mana haq mana bathil, tidak tahu batas mahrom dan bukan mahrom. Kalau hal ini terjadi maka rusaklah umat Nabi Muhammad SAW dan atas keajadian ini nanti di akhirat kita sebagai para orang tua akan dimintai pertanggung jawaban bagaimana kita telah membina anak-anak kita sehingga menyebabkan rusaknya umat. Sehingga karena kelalaian kita sendiri dalam membina keluarga telah menjadikan anak dan istri kita menjadi BOOMERANG bagi kita di akhirat. Naudzubilah min dzalik.

$pkr’¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä cÎ) ô`ÏB öNä3Å_ºurør& öNà2Ï»s9÷rr&ur #xrßtã öNà6©9 öNèdrâx÷n$sù 4 bÎ)ur (#qàÿ÷ès? (#qßsxÿóÁs?ur (#rãÏÿøós?ur  cÎ*sù ©!$# Öqàÿxî íOÏm§ ÇÊÍÈ

(Q.S. At Taghobun:14)

Artinya: “Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tetapi jika kita berhasil membina anak-anak kita menjadi anak-anak yang shaleh dan taat pada ketentuan Alloh dan Rasulnya, maka itu merupaka investasi yang luar biasa besarnya untuk bekal kita menghadap Sang Khaliq.

اِذَ مَاتَ الاِ نْسَانُ اَنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلَهُ اِلاَّ مِنْ ثََلاَثٍ صَدَقَةٍجَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍصَا لِحٍ يَدْ عُوْلَهُ

(رواه الترمذي  ج ٢  ص ٤١٨)

Artinya: “Ketika manusia meninggal, maka putuslah pengamalannya kecuali 3 hal (yaitu) Shadaqoh Jariyyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.”

Demikian sedikit ungkapan hati ini, semoga memberi manfaat dan barokah bagi kita semua yang membacanya, tidak lain semua ini disampaikan sebagai menjalankan perintah Alloh SWT untuk saling berwasiat yang baik dan saling menasihati.

öÏj.sur ¨bÎ*sù 3tø.Ïe%!$# ßìxÿZs? úüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÎÎÈ

(Q.S. Adzariat: 55)

Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

الحمد لله جز كم الله خيرا




Sejuta Rintangan, Bermilyar Pertolongan

13 06 2009
Laa tahzan, Innallaha ma'anna

Laa tahzan, Innallaha ma'anna

Oleh: Mulyana Iskandar

Setiap kebenaran harus melewati sebuah ujian.

ingatkan apa yang dikatakan Waraqah pada Rasulullah ketika Rasul ketakutan setelah berjumpa dengan Namus ketika menerima wahyu pertama( Waroqoh:paman khadijah,seorang rahib ahli injil& taurat ahltauhid yang menerjemahkan taurat dari  bahasa Ibrani ke bahasa Arab dan menerjemahkan injil dari bahasa Aramaik/latin ke bahasa Arab).

Waroqoh berkata pada Rasulullah: ‘ lam ya’ti rojulun qottun bimitsli ma ji’ta bihi illa ‘uudiya , wain yudrikni yaumuka, anshoruka nasron muazaron” —-belum ada orang yang seperti engkau (menerima wahyu/kebenaran) yang tidak dimusuhi, seandainya aku menjumpai hari itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga.

jadi memang sudah dalilnya dakwah itu akan melewati ribuan rintangan. tapi ingat kaidah perjuangan dakwah ” sejuta rintangan, semilyar pertolongan”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa ada golongan dari umatku yang membela kebenaran (sunnah). Tidaklah membahayakan mereka orang yang menghinanya sampai datang ketentuan Allah pada hari kiamat”. (HR. Muslim).

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢)وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan [saja] mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta

jadi benar juga apa yang dikatakan seorang ahli bijak dari Jerman Arthur chopenhauer yang mengatakan

…..Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan……

dan sebuah syair yang berbunyi

Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia,
Maka Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menyebarkannya,
Seandainya bukan karena nyala api yang merayap,
Maka tidak diketahui wanginya bau kayu wangi

semoga dakwah Quran dan Hadits bisa terus eksis illayaumilqiyamah, amiin




PAKAIAN NGATUNG DIATAS MATA KAKI

8 06 2009

Suatu ketika saya ditanya oleh seorang teman, hai teman ku, saya selalu memperhatikan cara kamu berpakaian, dimana kamu berpakaian selalu rapi namun sayangnya kenapa celana kamu tetap diatas mata kaki, sehingga kelihatanya kekurangan bahan.

Pada saat itu, saya menjawab pertanyaan teman saya tersebut, saya melakukan ini semata-mata karena saya melakukan ibadah, dimana ibadah itu harus punya dalil rujukannya, pada saat itu saya ucapakan dalinya secara lisan, kemudian keesokan harinya saya bawakan kutiban dalil-dalil tentang bab pakaian baik dari Al-Qur’an maupun dari Hadist nya seperti dibawah ini.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ * سورة الأعراف أية ١٣

Allah berfirman “Wahai Anak turun Adam, mengambilah pada perhiasan kamu sekalian di setiap masjid (berpakaianlah yang rapi dan suci), serta makan, minumlah dan jangan Isrof (berlebih-lebihan), sesungguhnya Allah tidak senang pada orang yang Isrof (berlebih-lebihan)”.

وَقَالَ النَّبِيُّ J كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلْ مَا شِئْتَ وَالْبَسْ مَا شِئْتَ مَا أَخْطَأَتْكَ اثْنَتَانِ سَرَفٌ أَوْ مَخِيلَةٌ * رواه البخاري كتاب اللباس

Nabi bersabda “Makan dan minum serta berpakaianlah, dan bersodaqohlah dengan tidak isrof (berlebih-lebihan) serta tidak sombong…..Ibnu Abbas berkata - makanlah apa-apa yang engkau kehendaki, dan berpakaianlah apa-apa yang engkau kehendaki selama tidak menyalahi kepada mu dua perkara yaitu berlebih-lebihan dan sombong”.

عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الْإِزَارِ فَقَال عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهJ إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ أَوْ لَا جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ * رواه أبو داود كتاب اللباس

Rosululloh SAW bersabda “Pakaian orang Islam sampai separuh betis, dan tidak dosa diantara separuh betis dan di atas kedua mata kaki, apa-apa yang lebih dari kedua mata kaki (berupa pakaian) maka hukumnya wajib masuk neraka, dan barang siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya”.

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ ……الحديث* رواه أبو داود كتاب اللباس

Rosululloh SAW bersabda “Angkatlah pakaianmu sampai separuh betis, jika engkau menolak (malu) maka boleh di turunkan sampai diatas kedua mata kaki, dan takutlah engkau pada menurunkan (ngelembrehkan/memanjangkan) pakaian, karena pakaian di bawah kedua mata kaki termasuk orang yang sombong, dan sesungguhnya Allah tidak senang pada orang yang sombong.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ * رواه أبو داود كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abi Huroiroh ….Suatu saat ada seorang laki-laki yang sedang sholat yang saat itu dia ngelembrehkan (memanjangkan) pakaiannya , lalu Rosululloh SAW bersabda kepada laki-laki tersebut “pergi dan berwudhu-lah engkau” akhirnya laki-laki itu pergi dan berwudhu, kemudian dia datang kepada Nabi, lalu Nabi bersabda “pergi dan berwudhu-lah engkau”, kemudian ada orang lain yang berkata kepada Nabi setelah melihat kejadian itu “Ya Rosululloh kenapa engkau perintahkan kepada laki-laki itu untuk mengerjakan wudhu tapi setelah itu engkau diam tidak menerangkan kesalahan laki-laki tersebut ?” kemudian Nabi menjawab “sesungguhnya laki-laki itu sholat tapi dia memanjangkan (ngelembrehkan) pakaiannya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menerima sholat seorang laki-laki yang memanjangkan (ngelembrehkan) pakaiannya”.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ J أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ خَابُوا وَخَسِرُوا فَأَعَادَهَا ثَلَاثًا قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ خَابُوا وَخَسِرُوا فَقَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ أَوِ الْفَاجِرِ * رواه أبو داود كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abi Dhar…. Rosululloh SAW bersabda “Ada tiga orang yang mana Allah tidak akan mengajak bicara dan tidak akan melihat pada mereka pada hari kiamat dan juga Allah tidak akan mensucikan pada mereka dan bahkan mereka mendapatkan siksaan yang pedih, Abi Dar berkata - sungguh rugi mereka dan sungguh-sungguh rugi mereka (Abi Dar mengatakan sampai tiga kali) Nabi menjawab - Orang yang memanjangkan (ngelembrehkan) pakaian, Orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan Orang yang menawarkan dagangan dengan sumpah dusta atau lacut”.

عَنْ أَبِيهِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ J قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ J لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ * رواه البخاري كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abih …. Rosululloh SAW bersabda “Barang siapa yang mengelembrehkan (memanjangkan) pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat”, Abu Bakar berkata….ya Rosululloh sesungguhnya salah satu kedua pakaianku nglembreh (turun) tapi setiap turun selalu langsung ku naikkan, Nabi bersabda : “ Wahai Abu Bakar engkau tidak termasuk orang yang sombong”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ J قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ * رواه البخاري احاديث الانبياء

Rosululloh SAW bersabda “Apa-apa yang melebihi dari mata kaki (pakaian) maka hukumnya wajib masuk neraka”.

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ J قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ خُسِفَ بِهِ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ * رواه البخاري احاديث الانبياء

Di riwayatkan dari Ibnu Umar …. Rosululloh SAW Bersabda : Suatu saat ada seorang laki-laki yang memanjangkan (ngelembrehkan) pakaiannya karena sombong, maka laki-laki tersebut di siksa dengan cara dibenamkan ke bumi oleh Allah, dan laki-laki tersebut meronta-ronta di dalam bumi sampai hari kiamat”.

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ J قَالَ حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ *رواه الترمذي كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abi Musa Al-As’ari …. Rosululloh SAW bersabda “Diharomkan pakaian sutra dan emas untuk laki-laki umat Ku dan di halalkan pakaian sutra dan emas untuk perempuan umat Ku”.

Dari saat itu teman saya tidak pernah menanyakan tentang cara berpakaian saya. Kenapa harus saya melaksanakan ayat dan hadist tersebut ? Hanya satu yang saya pegang yaitu “Surga itu diwariskan oleh Allah pada orang yang mengamalkan”.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

sumber: www.ldii-online.com




Jadilah Alang-Alang, Jangan Jadi Pohon Kelapa

9 05 2009

Oleh: Bambang Kusumanto
(kontributor dari anggota SATU Consulting Group)
Jakarta, 22 April 2009

Alang Alang Spirit Perjuangan

 

Saya lahir dan besar di kota Tegal – Jawa Tengah, tepatnya di Dukuh Siadem, Desa Randugunting, Kecamatan Tegal Barat. Dulu, disamping rumah saya terbentang sawah yang luas, Sawah Siadem, demikian sering disebut orang. Di tengah sawah tersebut terdapat bagian tanah yang agak tinggi dan kering, yang ditumbuhi rumput dan alang-alang, serta beberapa batang pohon kelapa. Ada satu dua pohon kelapa yang sudah tumbang dan gelugu-nya (batang kelapa) berserakan tidak diambil orang, dan disanalah saya dan kawan-kawan sering bermain bola disore harI ketika hari tidak hujan. Sawah Siadem itu sekarang sudah tidak ada lagi, berganti rupa menjadi kompleks perumahan, bahkan disitulah terdapat Mesjid Siadem yang kawan-kawan saya dari Jakarta sering mampir untuk shalat kalau kebetulan lewat di kota Tegal.

Bayangan keadaan masa lalu itu tidak pernah hilang dari ingatan saya, karena almarhum Bapak saya, kepala sekolah satu-satunya Sekolah Teknik Menengah di Tegal waktu itu, sering berkata kepada saya “Nak, kalau kamu besar nanti, jadilah alang-alang, jangan jadi pohon kelapa” sambil beliau menunjuk kearah tanah lapang tersebut dari emperan rumah saya. Tentu saja saya tidak mengerti maksud kata-kata itu. Barulah setelah saya dewasa dan tinggal di Jakarta beliau menerangkan maksud perkataannya, yang kurang lebih demikian:

Banyak diantara kita sering mendengar nasihat untuk menjadi orang yang selalu tegak (istiqomah) dalam menjalankan prinsip-prinsip hidup yang luhur. Menjadi orang yang baik, jujur, disiplin, berani, selalu benar, orang yang bisa menjadi teladan, yang sempurna, hati-hati, jangan sampai salah, sebab kesalahan setitik dalam hidup kadang-kadan akan menjadi aib seumur hidup yang sulit untuk dihapus. Di USA dimana saya pernah tinggal selama lima tahun, mereka bahkan punya motto “be number one, no place for the second”. Dalam era hidup penuh kompetisi, motto ini sangat masuk akal dan banyak dianut, bahkan saya pun pernah terobsesi mencoba selalu menjadi yang terbaik atau yang nomor satu dalam lingkungan saya.

Namun, kata Ayah saya, sifat menggapai kesempurnaan yang mendarah mendaging ini, sering membawa bahaya, yaitu suatu kekecewaan yang bisa berlanjut menjadi putus asa, ketika karena suatu musibah menimpa dan memporak porandakan kondisi kesempurnaan yang selalu dipertahankan itu.

Orang yang selalu menjadi juara dikelasnya, kadang-kadang sulit dan kecewa secara berlebihan ketika karena suatu hal dia tidak dapat lagi menjadi juara dikelasnya. Orang yang selalu dihormati karena kekayaan atau prestasinya kadang-akan kecewa ketika tidak lagi kaya atau dapat mempertahankan prestasinya. Kekecewaan itu begitu mendalam sehingga tidak sanggup lagi ditanggung oleh jiwanya yang tidak pernah terlatih menerima kegagalan.

Saya pernah menyaksikan kerabat saya, sebuah keluarga berdarah biru yang nyaris sempurna, kaya, berpendidikan tinggi, tokoh mayarakat yang selalu menjadi panutan dikota masa kecil saya, tiba-tiba belakangan salah satu anaknya menjadi pecandu narkoba berat dan salah satu anak perempuannya hamil di luar nikah sehingga menjadi gunjingan yang sangat memalukan dikota itu, sehingga bapak dan ibunya sakit, stress dan akhirnya stroke, karena tidak tahan menghadapi musibah ini.

Banyak tokoh selebritis dunia, seperti Mike Tyson, Michael Jackson, yang kemudian “menghilang” dari kehidupan publik, karena tidak dapat menanggung “malu” setelah tidak dapat lagi mempertahankan posisi “numero uno” dan bahkan ditimpa kemalangan dibidang financial dan tuntutan hukum atas suatu perbuatan mereka yang diangap salah.

Ini persis seperti yang digambarkan oleh sebatang pohon kelapa. Sejak kecil dia tumbuh besar dan selalu menjulang menjadi tinggi tanpa hambatan. Kokoh tidak bergeming ketika datang angin maupun hujan. Namun ketika badai demikian besar dan dia tidak sanggup lagi untuk menahannya, maka sang pohon kelapa itu akan tumbang dan tidak akan pernah bangun lagi! Ini bukan gambaran sifat yang dikehendaki oleh kita.

Sebaliknya, lihatlah alang-alang. Dia tumbuh dengan alami pada tempat yang cocok buat dia. Ketika angin kencang datang, maka batang tubuhnya akan tunduk mengikuti arah angin bahkan kadang sampai rata dengan tanah. Tetapi ketika angin kencang berhenti, dia akan tegak lagi seperti semula. Bila datang musim kering, bahkan ketika dibakar api oleh orang kampung, mereka seakan lenyap dan punah, tetapi ketika hujan kembali turun mereka akan tumbuh subur seperti sediakala. Ketika banjir melanda mereka “kentir” terbawa arus, mereka akan tumbuh lagi dan bahkan semakin lebat dari sebelumnya.

Itulah sifat ulet dan tahan uji, keyakinan untuk bangkit kembali dari kegagalan, yang perlu kita miliki. “To err is humane” kata orang Barat, berbuat salah adalah manusiawi. Belakangan saya menemukan justifikasi atas kodrat kelemahan kita sebagai manusia yang justru harus dapat kita terima. Dalam suatu hadits Rasulullah SAW (maaf saya mengambil referensi Islam, karena saya orang Islam), yang mengatakan bahwa “Allah SWT senang pada orang yang suka bertobat. Ketika terdapat suatu kaum yang sempurna dan tidak pernah berbuat salah, mereka akan segera dimatikan, dan diganti oleh Allah dengan suatu kaum yang sering berbuat salah namun atas kesalahannya itu mereka bertaubat” Dalam hadits yang lain Rasullulah SAW juga bersabda, “Jikalau Allah SWT mencintai suatu kaum, maka dia akan memberikan cobaan kepada mereka (dan Allah juga akan memberikan pertolongan kepada mereka)”

Moral dari gambaran ini sebenarnya sederhana : jadilah manusia yang hidup baik secara alami, tidak usah ngoyo untuk menjadi sangat sempurna, tapi punyailah keuletan dan sifat tahan uji menerima kegagalan dan selalu bisa bangkit kembali.

Ayah saya pernah juga berpesan dalam bahasa Jawa “urip kuwe sing kepeneak wae, nanging ojo sak kepenake” (hidup itu yang enak saja/santai saja, tapi jangan seenaknya). Entah apa persis maknanya, saya masih mencarinya sampai sekarang.

Cerita ini saya tutup dengan kisah musibah yang menimpa saya dan saya terbangun kembali oleh prinsip diatas. Tahun 1980 saya pernah menderita sakit di perantauan, saya terkena sakit thypus yang sangat parah. Setelah beberapa lama tergeletak sakit dirumah, satu bulan lamanya saya harus dirawat di RS Elisabeth Medan dalam keadaan hampir mati. Badan kurus kering, liver saya membengkak, juga dinyatakan gagal ginjal oleh dokter setempat. Singkatnya, dokter menyatakan saya adalah seorang invalid yang sulit untuk sembuh kembali. Yang lebih menyedihkan dalam keadaan terbaring di RS, saya diminta berhenti oleh atasan saya sebagai PNS karena sudah terlalu lama tidak bisa bekerja. Habis sudah riwayat saya, juga malu karena saya anak lelaki tertua yang sudah bekerja yang selama ini menjadi kebanggan keluarga saya. Kekecewaan saya terhadap masa depan saya justru lebih menyakitkan dari pada rasa sakit yang saya derita saat itu. Stress dan putus asa melanda jiwa saya, sampai saya tidak berani mengabarkan kondisi saya itu kepada orang tua saya. Namun Allah SWT kemudian menolong saya dengan kejadian yang tidak pernah saya lupakan.

Disuatu pagi, munculah Ayah saya di kamar RS. saya dirawat. Belakangan saya tahu beliau yang sudah pensiun, terpaksa harus berhutang untuk membeli tiket pesawat ke Medan yang sangat mahal waktu itu (dan itu adalah pertama kalinya beliau naik pesawat).

Setelah beliau melihat kedaan saya dan mendengar kisah saya tersebut, beliau mengatakan sesuatu yang selalu saya ingat sampai sekarang karena kata-kata tersebut telah menjadikan saya dari sebatang pohon kelapa yang telah roboh menjadi alang-alang yang mampu tegak kembali sampai saa ini.

“Nak, kalau betul kamu dinyatakan invalid oleh dokter, saya masih bersyukur kepada Allah SWT, sebab sakit yang kamu derita adalah sakit badanmu, jiwamu masih sehat. Banyak orang yang badannya sehat tapi jiwanya sakit, merekalah orang yang tidak punya harapan untuk hidup. Dan seandainya kamu benar-benar harus keluar sebagai PNS, Bapak tidak kecewa. Mari kita pulang ke Tegal, Bapak masih punya sawah beberapa petak disamping rumah, saya yakin itu masih cukup untuk memberi makan kita sekeluarga.”

Kata-kata Bapak saya seperti air dingin yang membangkitkan diri saya dari tidur. Besoknya dalam keadan ditandu saya dibawa pulang ke Tegal, dan berobat secara tradisional. Alhamdulillah sebulan kemudian saya dapat kembali bekerja, dan tidak jadi diberhentikan dari status saya sebagai PNS. Sekarang, setiap kali saya ditimpa musibah, saya teringat kepada lapangan dan alang-alang itu, saya juga merindukan Bapak saya yang telah tiada. Mudah-mudahan Allah SWT menerima amal baiknya.

Mudah-mudahan cerita ini dapat menjadi inspirasi yang bermanfaat bagi mereka yang memerlukan.