Penulis : Jauharul Irfan
(Sahabatku berbagi ilmu)
“Bismillahirrohmani rrohim”
At Takwir adalah nama surat ke 81 dalam Al Qur’an. Beberapa ayat pada
bagian awal surat ini menceritakan keadaan hari kiamat, suatu cerita
yang sangat gamblang. Begitu gamblangnya pemaparan tentang kiamat pada
surat ini sehingga dalam hadits disebutkan:
“Barangsiapa senang untuk melihat hari kiamat sejelas melihat dengan
mata kepala sendiri, maka bacalah “Idzassyamsu kuwwirot” dan
“Idzassamaaun fathorot” dan “Idzassamaaunsyaqqo t”.”
(HR. Ahmad dan At Tirmidzi).
Dalam surat ini, hari kiamat dilukiskan sebagai hari yang teramat
berat. Banyak peristiwa-peristiwa besar yang terjadi saat itu. Allah
SWT menjelaskan kepada kita agar kita melakukan antisipasi dengan
beramal sebaik-baiknya agar kita selamat di hari yang dahsyat itu.
Nama surat ini diambil dari kata kuwwirot yang terdapat pada ayat
pertama. Kuwwirot berasal dari kata dasar (fi’il madhi) kawaro (telah
menggulung). Sedang Kuwwirot artinya adalah digulung. Ayat itu
selengkapnya berbunyi:
“Idzas syamsu kuwwirot.” (Ayat: 1)
“Ketika matahari digulung.” (Ayat: 1)
Kalimat “digulung” mempunyai arti yang bias. Sebagaimana layaknya
sebuah karpet, kita bisa manfaatkan untuk sekedar tiduran diatasnya,
duduk-duduk bahkan berbagai kegiatan bisa kita lakukan manakala karpet
itu terbentang. Ketika karpet itu digulung, sudah tidak berfungsi
apa-apa lagi. “Digulung” hanya sebuah istilah untuk sesuatu yang sudah
tidak berfungsi lagi selayaknya. Begitupun dengan matahari yang telah
digulung, artinya matahari itu sudah tidak menjalankan fungsinya lagi,
menyinari bumi.
Dalam “Tafsir Al Qu’an Al Adzim” karya Ibnu Katsir atau yang lebih
populer disebut “Tafsir Ibnu Katsir”, Ibnu Abbas mengatakan: “Kuwwirot
artinya digelapkan.” Dari arti ini sudah jelas, bahwa pada saat kiamat
terjadi, matahari sudah tidak lagi menerangi bumi.
Fenomena ini terjadi beberapa hari sebelum terjadi kiamat. Ubay Ibnu
Ka’ab mengatakan, bahwa enam hari sebelum kiamat terjadi, saat
orang-orang sedang hilir-mudik di pasar, mendadak sontak sinar
matahari menjadi hilang. Dalam kegelapan itu mereka melihat
bintang-bintang berguguran tak karuan arah….(”Tafsir Ibnu Katsir”).
Terjadinya kiamat ditandai dengan peristiwa bertumbukannya bumi dengan
planet atau benda-benda langit yang dalam bahasa Arabnya adalah an
nujuum. Sebagaimana diterangkan dalam ayat berikutnya:
“Wa idzan nujuumun kadarot.” (Ayat: 2)
“Dan ketika bintang-bintang berjatuhan.” (ayat: 2).
Kalau kita rajin membuka website NASA ada informasi menarik berkenaan
dengan masa depan bumi. Tentu saja kita tidak bisa mengartikan bahwa
kejadian yang diterangkan oleh NASA ini adalah kiamat sebagaimana yang
diterangkan dalam Al Qur’an. Karena hanya Allah yang Maha Tahu kapan
kiamat terjadi. Namun setidak-tidaknya penjelasan dari NASA ini akan
mempertebal keyakinan kita terhadap konsep “hari kiamat” bahwa bumi
akan mengalami masa kehancuran. Dan gejala-gejala yang akan timbul
dalam kejadian ini sama seperti yang dilukiskan oleh Rasulullah SAW
sebagai tanda-tanda kiamat, misalnya: matahari terbit dari arah barat,
banyak gempa bumi, meningkatnya aktivitas gunung berapi dan
sebagainya.
Pada tahun 2003 lalu telah terdeteksi ada sebuah planet dari luar
tatasurya kita yang ditarik oleh grafitasi matahari ke dalam tatasurya
kita sehingga masuk dalam orbit planet-planet dalam keadaan berbalik
arah. Diperkirakan planet itu akan masuk dalam tatasurya pada tahun
2053, dan pada suatu saat nanti akan bertabrakan dengan bumi. Planet
itu diidentifikasikan sebagai Planet X atau Nibiru.
Planet itu sedemikian besarnya sehingga dikatagorikan sebagai planet
humongous (yang tidak terkira besarnya) karena planet itu memilki
massa 100 kali massa bumi dan memiliki medan magnet yang sangat
dahsyat sehingga berpengaruh besar terhadap planet-planet dalam
tatasurya kita yang akibatnya bencana dahsyat akan terjadi ketika
Planet X melintas tatasurya, tidak terkecuali di bumi. Planet-planet
akan berubah arah putarannya. Gempa bumi terkuat dalam sejarah manusia
modern juga akan terjadi di seluruh dunia, setelah inti bumi berhenti
bergerak untuk sejajar dengan medan magnet Planet X, kekuatan
jangkauan gempa lebih besar dari 9 Skala Richter. Gunung es di
Antartika membelah dan mencair, menimbulkan gelombang pasang yang
dahsyat, membawa hanyut apa saja yang disapunya.
Itulah pendapat para ilmuwan NASA, bahwa alam semesta akan mengalami
kehancuran. Sekurang-kurangnya informasi ini menjelaskan kepada kita,
bahwa secara ilmiah, kiamat yang merupakan kehancuran alam semesta
sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT itu benar-benar akan
terjadi.
Pada ayat berikutnya:
“Waidzal jibaalu suyyirot.” (ayat: 3).
“Dan ketika gunung-gunung dihancurkan. ” (Ayat: 3).
Dari peristiwa “tabrakan” itu menimbulkan gejala alam yang sangat
dahsyat, gunung-gunung hancur menjadi debu yang berterbangan layaknya
kapas yang di tiup dan luruh, rata dengan bumi. Gempa hebat terjadi di
mana-mana:
“Ketika bumi digoncang dengan goncangannya (yang dahsyat).” (QS. Al
Zalzalah: 1).
Datangnya peristiwa ini sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kejapan
mata. Dijelaskan dalam hadits, saat itu ada orang yang sedang
bertransaksi barang. Sebelum barang itu sempat diterima, kiamat sudah
terjadi. Ada orang akan menyuapkan makanannya. Sebelum makanan sampai
ke mulutnya, kiamat sudah terjadi.
Hari itu situasinya betul-betul mencekam, setiap orang dirundung
kepanikan luar biasa, sehingga mereka tidak peduli lagi terhadap orang
di sekitarnya; anak lari dari orang tuanya, dari istrinya, dan lari
dari kerabatnya yang lain.
“Dan apabila datang suara yang memekakkan telinga (tiupan sangkakala
kedua). Pada hari seseorang lari dari saudaranya, dan (lari dari)
ibunya dan bapaknya, dan (lari dari) istrinya dan anaknya. Setiap
orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. ”
(QS. ‘Abasa: 33-37).
Dijelaskan lagi dalam ayat berikut ini:
“Waidzal ‘isyaaru ‘utthilat.” (Ayat: 4).
“Dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) .” (Ayat: 4).
Ayat ini melukiskan suasana gugup dan panik pada hari kiamat. Unta
bunting memerlukan pemeliharaan yang manja dari pemiliknya. Karena
diharapkan pada anaknya yang akan lahir. Unta bunting mengandung
tambahan kekayaan. Bila kiamat telah datang orang tidak peduli lagi
kepada unta bunting yang selama ini dipelihara dengan baik itu.
Gambaran kecil dapat kita lihat pada masyarakat yang sedang dilanda
perang, banyak orang yang mengungsi meninggalkan kambingnya, ternaknya
yang telah dipelihara dengan baik karena lari untuk memelihara
nyawanya dengan sebungkus pakaian saja. Begitulah suasana di hari
kiamat nanti, banyak peristiwa dahsyat yang terjadi saat itu. Setiap
orang dilanda kepanikan luar biasa. Mereka berusaha menyelamatkan
jiwanya dan tidak peduli lagi dengan harta kesayangannya.
“Waidzal wuhuusyu husyirot.” (Ayat: 5)
“Dan apabila binatang liar dikumpulkan. ” (Ayat:5)
Manusia dengan segala rasnya. Begitu pun jin dengan segala jenisnya.
Bahkan binatang dengan segala jenisnya berkumpul di suatu padang
bernama Mahsyar untuk mengahadapi hari pengadilan. Manusia, jin dan
binatang semua akan menjalani pengadilan. Mereka akan saling membalas.
Ada manusia yang tertahan masuk syurga lantaran ada sangkutan masalah
dengan binatang. Bukankah Rasulullah SAW pernah menjelaskan, ada
seorang wanita masuk ke dalam neraka karena menterlantarkan seekor
kucing yang dia pelihara. Begitu pun ada seorang pelacur masuk ke
syurga lantaran memberi minum seekor anjing kehausan.
Binatang dengan binatang pun saling membalas. Binatang yang sewaktu di
dunia pernah mematuk “kawannya”, pada hari itu dilakukan pembalasan.
Binatang yang dipatuk diberi kesempatan untuk membalas mematuk kepada
“kawannya”. Hanya saja yang membedakan antara golongan jin dan manusia
dengan binatang adalah, binatang akan berakhir menjadi tanah. Artinya,
setelah mereka saling membalas lalu mereka menjadi tanah. Tidak
demikian dengan jin dan manusia. Mereka harus melanjutkan “perjalan”
menuju ke syurga atau neraka. Inilah yang membuat jin dan manusia
mengangankan seperti binatang, menjadi tanah tanpa harus melanjutkan
“perjalanan” ke neraka yang abadi. Sebagaimana firman Allah:
“…Dan berkatalah orang kafir: “Duhai harapanku, sekiranya aku menjadi tanah.”
(QS. An Naba’: 40)
“Waidzal bihaaru fujjirot.” (Ayat: 6).
“Dan apabila lautan dipanaskan.” (Ayat: 6).
Tabrakan besar telah terjadi. Gunung-gunung hancur, Bumi mengeluarkan
isi perutnya:
“Dan Bumi mengeluarkan isinya.” (QS. Az zalzalah: 2).
Akibatnya lahar menerjang kemana-mana, membakar apa saja yang
dilaluinya. Laut pun menggelagak, mendidih yang sangat panas karena
diterjang lahar.
“Waidzannufuusu zuwwijat.” (Ayat: 7).
“Dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan (kembali).” (Ayat: 7).
Ketika terompet pertama dibunyikan oleh Malaikat Isrofil akan
mematikan semua sisa-sisa yang masih hidup. Tidak saja dari golongan
jin dan manusia; binatang, tumbuh-tumbuhan bahkan malaikat pun mati.
Nufuus, artinya: jiwa-jiwa, jama’ dari nafs artinya jiwa. Ketika
seseorang telah mati, berarti jiwanya telah binasa, karena antara ruh
dan jasmaninya telah terpisah. Jasmani seseorang yang telah mati akan
hancur dimakan tanah. Sedangkan ruh-ruh mereka tersimpan dalam alam
barzakh, alam yang memisahkan antara alam dunia dan alam akhirat. Di
situlah para ruh mendapatkan apa yang telah mereka perbuat semasa
hidup di dunia. Ada yang mendapatkan “nam sholihan kanaumatil ‘arusy!”
(tidurlah yang nyenyak bagaikan tidurnya temanten baru). Dan ada yang
mendapatkan ‘adzabil qobr (siksa kubur), karena dosa-dosanya ketika
hidup di dunia. Kecuali ruh para syuhada’, mereka tidak ditempatkan di
alam barzakh melainkan di sidratul muntaha, sebuah pohon yang sangat
besar dengan buah-buahnya yang sangat lezat. Ruh-ruh para syuhada’
bagaikan burung-burung yang berterbangan dengan riangnya kian kemari
menunggu datangnya terompet kedua di mana ruh-ruh mereka akan
dipertemukan kembali dengan jasmani mereka yang telah dipendam di
balik bumi.
Berbicara soal Ruh, ada saja orang yang menghubungkan dengan tahayul,
bahwa orang mati dengan cara tertentu ruh mereka akan bergentayangan
karena tidak diterima di sisi Tuhan. Misalnya orang wanita meninggal
dunia karena melahirkan akan menjadi “kuntilanak” . Bayi yang meninggal
dunia akan menjadi “tuyul” dan masih banyak lagi
kepercayaan- kepercayaan yang lain. Sungguh ini anggapan yang
samasekali tidak berdasarkan dalil. Karena ruh orang yang meninggal
dunia, dengan cara apapun mereka meninggal, mereka akan berada dalam
alam barzakh. Kecuali para syuhada’ –di antaranya wanita yang
meninggal dunia ketika melahirkan– mereka akan berada di Sidratul
muntaha. Sesungguhnya apa yang mereka lihat sebagai “ruh” itu hanya
jelmaan dari jin-jin yang diberi nama Qorin. Sejak manusia lahir
mereka sudah diberi teman dari golongan jin. Jin Qorin ini senantiasa
memberi pengaruh jelek kepada “empunya”. Karena begitu lama dia
mengikuti temannya itu, maka dia hafal betul kebiasaan sehari-hari
empunya. Dan dia pun mampu menirukan bentuk fisik empunya. Kalau ada
orang meninggal dunia dengan cara tertentu kemudian ada wujud-wujud
tertentu yang menyerupai dia, sesungguhnya itu bukanlah ruh atau arwah
si mati, tetapi itu adalah Qorin yang karakternya memang jelek,
sebagaimana firman Allah:
” Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah
(Allah), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan
itulah yang menjadi qorin (teman) yang selalu menyertainya. ” (QS. Az
Zukhruf: 36).
“…Barangsiapa yang mengambil syaitan itu sebagai qorin, maka syaitan
itu adalah teman yang seburuk-buruknya. ” (QS. An Nisa’: 38).
Sedang ruh si mati itu sendiri berada di alam barzakh menunggu
dipertemukan kembali dengan jasmaninya apabila terompet kedua ditiup
oleh Malaikat Israfil.
Ketika ruh telah dipertemukan kembali dengan jasad mereka yang telah
hancur menjadi tulang belulang mereka lalu bangkit dari kuburnya
masing-masing dengan wujud seperti semula, ketika mereka hidup di
dunia. Saat itu bencana dahsyat tengah terjadi; gempa bumi besar
merata di mana-mana, gunung-gunung hancur dan lautan mendidih, mereka
pun berada dalam kepanikan dan kebingngan teramat sangat.
“Dan manusia pun berkata: ” Apakah yang (tengah terjadi) di Bumi?”
(QS. Az Zalzalah: 4).
Mereka digiring oleh api dari tempat mereka dibangkitkan menuju satu
tempat yang disebut Mahsyar. Di si situlah mereka dikumpulkan untuk
menunggu diadili yang disebut hisab. Disebut hisab, karena ketika itu
setiap orang akan dikoreksi amal dan dosanya yang telah diperbuat
selama di dunia. Dan mereka kemudian ditentukan tempatnya ke syurga
atau ke neraka. Segala perbuatan manusia akan diungkap kembali
termasuk dosa mereka yang telah membunuh anak sendiri, seperti
kebiasaan bangsa Arab jahiliyah, mengubur hidup-hidup anak
perempuannya.
“Waidzal mau’uudatu suilat.” (Ayat: 8).
“Dan apabila anak perempuan yang dikubur (hidup-hidup) ditanya.” (Ayat: 8).
Di zaman jahiliyah orang Arab suka mengubur anak perempuannya
hidup-hidup, karena merasa malu memperoleh anak perempuan. Maka di
hari kiamat kelak mereka akan diperiksa:
“Biayyi dzambin qutilat.” (Ayat: 9).
“Sebab dosa apakah gerangan mereka dibunuh?” (Ayat: 9).
Mereka akan ditanya, apa sebabnya ayah mereka sampai hati menguburkan
mereka ke balik bumi dalam keadaan hidup-hidup. Tentu saja mereka
menjadi saksi belaka dari kesalahan perbuatan ayahnya.
Menurut As Syihab, maka pertanyaan dihadapkan kepada yang teraniaya,
yaitu anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu sendiri, dihadapan
orang yang menganiayanya dan menguburkannya itu supaya lebih terasa
berat dan besarnya dosa yang telah diperbuatnya. Akan terasa
sendirilah kepadanya bahwa bukanlah anak yang ditanya itu yang akan
dapat menjawab pertanyaan itu karena bukan dia yang bersalah,
melainkan dirinya sebagai pembunuhlah yang mesti dihukum berat.
Menurut As Syihab cara seperti ini disebut istidraj, yaitu membawa
bicara kepada suatu suasana yang si bersalah merasakan sendiri
kesalahannya, dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu kepada yang
tidak bersalah.
Menurut As Suyuthi: “Ayat-ayat ini menggambarkan betapa berat dosanya
mengubur anak perempuannya hidup-hidup itu.”
Untuk perkara mengubur anak perempuan hidup-hidup, banyak sahabat
Rasulullah SAW yang pernah melakukan perbuatan sadis ini semasa mereka
masih jahiliyah kemudian mereka menyesali perbuatannya setelah
mendapat hidayah, Islam. Sebagaimana diriwayatka oleh Ad Darimy dalam
musnadnya, ada seorang laki-alaki yang menyatakan kepedihannya kepada
Rasulullah SAW ketika mengenang perbuatannya pada masa jahiliyah. Dia
berkata: “Ya Rasulullah, di zaman jahiliyah kami menyembah berhala dan
tega membunuh anak kami. Aku sendiri mempunyai seorang anak perempuan.
Setelah dia mulai gadis kecil, dia periang dan lucu, suka sekali bila
kupanggil. Suatu hari dia kupanggil dia pun datang. Aku bawa dia, dia
pun menurut. Lalu aku bawa kepada sebuah sumur tua kepunyaan kaum kami
yang letaknya tidak begitu jauh dari kediaman kami. Lalu aku bawa dia
ke pinggir sumur itu untuk melihat ke dalamnya. Setelah kepalanya
terjulur ke dalam, terus aku angkat kedua kakinya, aku lempar dia ke
dalam. Ketika dia akan aku tinggalkan masih kedengaran dia
memanggil-manggil: “Ayah, Ayah!” Mendengar ceriteranya itu dengan
tidak disadari berlinanglah air mata Rasulullah SAW. Lalu berkatalah
salah seorang yang duduk duduk dalam majelis itu: “Sudahlah! Engkau
telah membuat Rasulullah bersedih.” Lalu Rasulullah SAW bersabda:
“Biarkanlah dia! Dia menceritakan hal itu ialah karena tekanan
batinnya yang mendalam.” Lalu bersabda pula Rasulullah kepada orang
itu: “Lanjutkan ceriteramu itu.” Maka orang itu pun melanjutkan
ceriteranya kembali dan Rasulullah pun kembali pula dengan tidak
disadari menitikkan air mata yang lebih banyak lagi dari yang tadi.
Dan orang itu pun tampak sekali kesedihannya ketika dia berceritera
dan tampak pula pada wajahnya penyesalan yang tak terperikan.” Maka
Rasulullah bersabda: “Allah telah mengampuni dosa-dosa zaman jahiliyah
itu dengan masukmu ke dalam Islam. Perbanyaklah amal yang baik, semoga
dosa-dosamu diampuni.” Orang lain pula datang kepada Rasulullah SAW
mengeluhkan dosa yang serupa itu di zaman jahiliyah. Rasulullah SAW
menyuruhnya memerdekakan budak, karena orang itu kaya.”
Begitulah gambaran kebiadaban orang-orang Arab jahiliyah serta
beratnya beban dosa yang akan mereka tanggung di akhirat akibat
perbuatannya itu. Sedangkan anak yang menjadi korban itu sendiri
berada di syurga.
“Nabi SAW bersabda: “Nabi di syurga, orang yang mati syahid di syurga,
orang yang dilahirkan (dalam Islam) di syurga, anak perempuan yang
dikubur hidup-hidup di syurga.” (HR. Ahmad).
Demikian uraian singkat tafsir Surat At Takwir dari ayat 1 hingga ayat
9. Semoga uraian ini dapat selalu mengingatkan kita pada hari kiamat
untuk memotifasi kita agar selalu berbuat yang diridhoi oleh Allah
SWT.
Alhamdulillah Jazakumulohukhoiron.
J. Irfan.