Sejuta Rintangan, Bermilyar Pertolongan

13 06 2009
Laa tahzan, Innallaha ma'anna

Laa tahzan, Innallaha ma'anna

Oleh: Mulyana Iskandar

Setiap kebenaran harus melewati sebuah ujian.

ingatkan apa yang dikatakan Waraqah pada Rasulullah ketika Rasul ketakutan setelah berjumpa dengan Namus ketika menerima wahyu pertama( Waroqoh:paman khadijah,seorang rahib ahli injil& taurat ahltauhid yang menerjemahkan taurat dari  bahasa Ibrani ke bahasa Arab dan menerjemahkan injil dari bahasa Aramaik/latin ke bahasa Arab).

Waroqoh berkata pada Rasulullah: ‘ lam ya’ti rojulun qottun bimitsli ma ji’ta bihi illa ‘uudiya , wain yudrikni yaumuka, anshoruka nasron muazaron” —-belum ada orang yang seperti engkau (menerima wahyu/kebenaran) yang tidak dimusuhi, seandainya aku menjumpai hari itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga.

jadi memang sudah dalilnya dakwah itu akan melewati ribuan rintangan. tapi ingat kaidah perjuangan dakwah ” sejuta rintangan, semilyar pertolongan”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa ada golongan dari umatku yang membela kebenaran (sunnah). Tidaklah membahayakan mereka orang yang menghinanya sampai datang ketentuan Allah pada hari kiamat”. (HR. Muslim).

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢)وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan [saja] mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta

jadi benar juga apa yang dikatakan seorang ahli bijak dari Jerman Arthur chopenhauer yang mengatakan

…..Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan……

dan sebuah syair yang berbunyi

Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia,
Maka Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menyebarkannya,
Seandainya bukan karena nyala api yang merayap,
Maka tidak diketahui wanginya bau kayu wangi

semoga dakwah Quran dan Hadits bisa terus eksis illayaumilqiyamah, amiin




PAKAIAN NGATUNG DIATAS MATA KAKI

8 06 2009

Suatu ketika saya ditanya oleh seorang teman, hai teman ku, saya selalu memperhatikan cara kamu berpakaian, dimana kamu berpakaian selalu rapi namun sayangnya kenapa celana kamu tetap diatas mata kaki, sehingga kelihatanya kekurangan bahan.

Pada saat itu, saya menjawab pertanyaan teman saya tersebut, saya melakukan ini semata-mata karena saya melakukan ibadah, dimana ibadah itu harus punya dalil rujukannya, pada saat itu saya ucapakan dalinya secara lisan, kemudian keesokan harinya saya bawakan kutiban dalil-dalil tentang bab pakaian baik dari Al-Qur’an maupun dari Hadist nya seperti dibawah ini.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ * سورة الأعراف أية ١٣

Allah berfirman “Wahai Anak turun Adam, mengambilah pada perhiasan kamu sekalian di setiap masjid (berpakaianlah yang rapi dan suci), serta makan, minumlah dan jangan Isrof (berlebih-lebihan), sesungguhnya Allah tidak senang pada orang yang Isrof (berlebih-lebihan)”.

وَقَالَ النَّبِيُّ J كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلْ مَا شِئْتَ وَالْبَسْ مَا شِئْتَ مَا أَخْطَأَتْكَ اثْنَتَانِ سَرَفٌ أَوْ مَخِيلَةٌ * رواه البخاري كتاب اللباس

Nabi bersabda “Makan dan minum serta berpakaianlah, dan bersodaqohlah dengan tidak isrof (berlebih-lebihan) serta tidak sombong…..Ibnu Abbas berkata - makanlah apa-apa yang engkau kehendaki, dan berpakaianlah apa-apa yang engkau kehendaki selama tidak menyalahi kepada mu dua perkara yaitu berlebih-lebihan dan sombong”.

عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الْإِزَارِ فَقَال عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهJ إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ أَوْ لَا جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ * رواه أبو داود كتاب اللباس

Rosululloh SAW bersabda “Pakaian orang Islam sampai separuh betis, dan tidak dosa diantara separuh betis dan di atas kedua mata kaki, apa-apa yang lebih dari kedua mata kaki (berupa pakaian) maka hukumnya wajib masuk neraka, dan barang siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya”.

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ ……الحديث* رواه أبو داود كتاب اللباس

Rosululloh SAW bersabda “Angkatlah pakaianmu sampai separuh betis, jika engkau menolak (malu) maka boleh di turunkan sampai diatas kedua mata kaki, dan takutlah engkau pada menurunkan (ngelembrehkan/memanjangkan) pakaian, karena pakaian di bawah kedua mata kaki termasuk orang yang sombong, dan sesungguhnya Allah tidak senang pada orang yang sombong.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ * رواه أبو داود كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abi Huroiroh ….Suatu saat ada seorang laki-laki yang sedang sholat yang saat itu dia ngelembrehkan (memanjangkan) pakaiannya , lalu Rosululloh SAW bersabda kepada laki-laki tersebut “pergi dan berwudhu-lah engkau” akhirnya laki-laki itu pergi dan berwudhu, kemudian dia datang kepada Nabi, lalu Nabi bersabda “pergi dan berwudhu-lah engkau”, kemudian ada orang lain yang berkata kepada Nabi setelah melihat kejadian itu “Ya Rosululloh kenapa engkau perintahkan kepada laki-laki itu untuk mengerjakan wudhu tapi setelah itu engkau diam tidak menerangkan kesalahan laki-laki tersebut ?” kemudian Nabi menjawab “sesungguhnya laki-laki itu sholat tapi dia memanjangkan (ngelembrehkan) pakaiannya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menerima sholat seorang laki-laki yang memanjangkan (ngelembrehkan) pakaiannya”.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ J أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ خَابُوا وَخَسِرُوا فَأَعَادَهَا ثَلَاثًا قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ خَابُوا وَخَسِرُوا فَقَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ أَوِ الْفَاجِرِ * رواه أبو داود كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abi Dhar…. Rosululloh SAW bersabda “Ada tiga orang yang mana Allah tidak akan mengajak bicara dan tidak akan melihat pada mereka pada hari kiamat dan juga Allah tidak akan mensucikan pada mereka dan bahkan mereka mendapatkan siksaan yang pedih, Abi Dar berkata - sungguh rugi mereka dan sungguh-sungguh rugi mereka (Abi Dar mengatakan sampai tiga kali) Nabi menjawab - Orang yang memanjangkan (ngelembrehkan) pakaian, Orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan Orang yang menawarkan dagangan dengan sumpah dusta atau lacut”.

عَنْ أَبِيهِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ J قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ J لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ * رواه البخاري كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abih …. Rosululloh SAW bersabda “Barang siapa yang mengelembrehkan (memanjangkan) pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat”, Abu Bakar berkata….ya Rosululloh sesungguhnya salah satu kedua pakaianku nglembreh (turun) tapi setiap turun selalu langsung ku naikkan, Nabi bersabda : “ Wahai Abu Bakar engkau tidak termasuk orang yang sombong”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ J قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ * رواه البخاري احاديث الانبياء

Rosululloh SAW bersabda “Apa-apa yang melebihi dari mata kaki (pakaian) maka hukumnya wajib masuk neraka”.

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ J قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ خُسِفَ بِهِ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ * رواه البخاري احاديث الانبياء

Di riwayatkan dari Ibnu Umar …. Rosululloh SAW Bersabda : Suatu saat ada seorang laki-laki yang memanjangkan (ngelembrehkan) pakaiannya karena sombong, maka laki-laki tersebut di siksa dengan cara dibenamkan ke bumi oleh Allah, dan laki-laki tersebut meronta-ronta di dalam bumi sampai hari kiamat”.

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ J قَالَ حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ *رواه الترمذي كتاب اللباس

Di riwayatkan dari Abi Musa Al-As’ari …. Rosululloh SAW bersabda “Diharomkan pakaian sutra dan emas untuk laki-laki umat Ku dan di halalkan pakaian sutra dan emas untuk perempuan umat Ku”.

Dari saat itu teman saya tidak pernah menanyakan tentang cara berpakaian saya. Kenapa harus saya melaksanakan ayat dan hadist tersebut ? Hanya satu yang saya pegang yaitu “Surga itu diwariskan oleh Allah pada orang yang mengamalkan”.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

sumber: www.ldii-online.com




Bukan Untuk Diperdebatkan, Just Do It Apa yang Anda Yakini Benar!!

5 02 2009

Perkenankanlah kami sharing ilmu Agama yang diambil dari Al
Hadits, yang membahas tentang pakaian kaum Pria. Maaf ! kalau baca
harus sampai habis
(jangan setengahnya) .

Suatu hari saya mendengar dari seorang Ustads lewat salah satu Radio
di Bandung. Yang membahas masalah “Pakaian Pria”.

Seorang pendengar bertanya via Tlp :

Pertanyaan : Pak Ustads dalil mana yang dipakai bahwa pakaian
(celana atau kain sarung) pria muslim itu diatas matakaki.

Jawab Ustads : Menurut (HR Buchari): “Tidak akan masuk surga jika
memanjangkan pakaiannya dibawah mata kaki karena sombong
.”

Keterangan Ustads:

Dalilnya sohih tapi yang ditekankan bukan masalah pakaiannya yang
panjang sampai dibawah mata kaki itu, melainkan “sombongnya” . Jadi
yang dimaksud hadits tsb. adalah tidak akan masuk surga seorang itu
jika dalam hatinya sombong. Yang “tersurat” memang demikian tapi
asalkan yang “tersirat” dalam hati kita tidak sombong itu tidak masalah.

Kesimpulan Bapak Ustads :

Memanjangkan pakaian dibawah matakaki itu

tidak apa-apa asalkan dalam diri kita tidak sombong.

KETERANGAN PAK USTADS INI BERBEDA DENGAN HADITS - HADITS DIBAWAH INI.

1. Keterangan lebih detail tentang ukuran pakaian.

Nabi bersabda : Pakaian orang muslim sampai setengah betis, dan
tidak apa-apa atau tidak dosa diantara kedua mata kaki, apa-apa yang
ada dibawah mata kaki adalah bagaian dari neraka, barang siapa yang
memanjangkan pakaian karena sombong maka Alloh tidak melihat pada
orang tersebut di hari kiamat (HR Abu Dawud)

2. Memanjangkan pakaian itu sendiri sudah termasuk sombong. Tidak
membedakan yang “tersurat” dan yang “tersirat”.

Sabda Nabi : “Angkatlah pakaianmu sampai setengah betis, bila
menolak kamu (tidak mau sampai setengah betis) maka sampai kedua mata
kaki, takutlah kamu pada memanjangkan pakaian, sesungguhnya
memanjangkan pakaian termasuk sombong” (HR Abu Dawud)

3. Prakteknya Nabi Muhammad ketika masih hidup

Dari Abihuroiroh : Suatu ketika Rosulullohi saw memerintah pada
seorang laki-laki (Rojul A) yang baru selesai sholat untuk berwudhu
lagi, kata Nabi : pergilah dan wudhulah, maka pergi dia Rojul A dan
berwudhu, kemudian datang dia kepada Nabi, lalu Nabi berkata lagi
(diulang) pergilah dan berberwudhulah, kemudian pergi dia untuk
berwudhu, kemudian datang lagi kepada Nabi, maka berkata Nabi kepada
Rojul A pergilah untuk berwudhu, setelah tiga kali melakukan demikian
kemudian si Rojul lain (Rojul B) disisi nabi bertanya kepada nabi, ya
Rosululloh ? kenapa Engkau memerintah pada Rojul A untuk berwudhu
kemudian diam Engkau kepada Rojul A tanpa memberi penjelasan, lalu
menjawab Nabi, sesungguhnya Rujul A tadi sholat dengan memanjangkan
pakaiannya sampai menutupi kedua mata kaki, sesungguhnya Alloh Yang
Maha Luhur tidak menerima amalan sholat orang laki-laki yang
memanjangkan pakaiannya. (HR Abu Dawud)

4. Kasus lain jaman Kolifah Umar Bin Khotob

Dalam bab pangkatnya Umar dalam Islam dan terbunuhnya Umar Bib Khotob .

…Ketika Umar Bin khotob ditusuk perutnya oleh Abu Luk luk dan
dalam keadaan mau meninggal dunia ada seorang pemuda yang berpakaian
dibawah matakaki sampai kena bumi, kemudian Umar memanggil kesinilah
pemuda, isi nasehatnya demikian “Hai anak saudaraku naikkan pakaianmu
maka sesunggungnya mengangkat pakaian itu lebih suci pada pakaianmu
dan lebih taqwa kepada Tuhanmu “….. (HR Buchari halaman 205, jilid 2
juz 4) maaf haditsnya dicuplik karena kisahnya panjang sekali hampir
dua halaman.

Dari keterangan Hadits tersebut silahkan memilih mana yang dipakai.

Mau mencontoh Rosululloh silahkan

Mau mengikuti nasehat Umar Bin Khotob juga boleh

Mau mengikuti pendapat dari Ustad Radio monggo kemawon
.

Tidak memilih (Abstain) tidak apa-apa untuk menambah wawasan,
tergantung kepada kefahaman masing-masing
.

Mau mendiskusikan silahkan, tapi bukan untuk diperdebatkan.

KESIMPULAN :

Celana diatas mata kaki adalah bukan ciri : laskar Jihad, Jamaah

Islamiah, Jamaah Tabligh, dll, tetapi

Sunnah Rosululloh saw. (dan bukan sesuatu yang aneh)

Sekali lagi mohon maaf disini kami bukan menggurui, bukan ceramah
dll, tetapi hanya sekedar sharing ilmu Agama untuk direnungkan, syukur2
kalau diamalkan.

Semoga Alloh memberi manfaat hidayah dan barokah

Wassalamu alakum wr wb.