Childern Learn what They Live

15 06 2009
Semoga Ganis menjadi Waladun Sholihat, Al Mar'atussholihat

Semoga Ganis menjadi Waladun Sholihat, Al Mar atussholihat

FAJAR - Cikarang  │15 JUNI 2009,  19:19:09 bbwi│

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun tak terasa kita sekarang sudah dewasa. Alhamdulillah hingga sejauh ini liku-liku hidup telah dilalui dan semua itu tidak lepas dari bimbingan kedua orang tua kita yang dengan sabar, penuh cinta dan kasih sayang, tulus penuh pengorbanan telah membina kita sehingga terbentuklah diri kita menjadi pribadi, menjadi karakter yang dapat menghadapi tantangan hidup hingga saat ini.

Dan sekarang, kitalah yang menjadi orang tua bagi anak-anak kita, sejuta harapan yang baik bagi kebahagiaan anak-anak kita menjadi suatu motivasi dalam membina dan membesarkan generasi penerus darah daging kita dimasa yang akan datang.

“Seorang anak akan menjadi Yahudi atau Nasrani tergantung (bimbingan) orang tuanya.”     (Al Hadits)

If a child lives with criticism,

He learns to condemn.

Jika anak hidup dalam kritikan,

Ia belajar menyalahkan.

If a child lives with hostility,

He learns to fight.

Jika anak hidup dalam permusuhan,

Ia belajar berkelahi.

If a child lives with ridicule,

He learns to be shy.

Jika anak hidup dalam ejekan,

Ia belajar menjadi rendah diri.

If a child lives with shame,

He learns to feel guilty.

Jika anak selalu dipermalukan,

Ia belajar merasa bersalah.

If a child lives with tolerance,

He learns to be patience.

Jika anak hidup dalam toleransi,

Ia belajar bersikap sabar.

If a child lives with encouragement,

He learns to confidence.

Jika anak selalu diberi semangat,

Ia belajar percaya sendiri.

If a child lives with praise,

He learns to appreciate.

Jika anak hidup dalam pujian,

Ia belajar menghargai.

If a child lives with fairness,

He learn to justice.

Jika anak hidup dalam keadilan,

Ia belajar bersikap adil.

If a child lives with security,

He learns to have faith.

Jika anak hidup dalam rasa aman,

Ia belajar memiliki keyakinan.

If a child lives with approval,

He learns to like himself.

Jika anak hidup dalam pemahaman,

Ia belajar meyukai dirinya.

If a child lives with acceptance and friendship,

He learns to find love in the world.

Jika anak hidup dalam penerimaan dan persahabatan,

Ia belajar menemukan cinta dalam hidup.

(Taken from: Ronnie, Doni - The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teacher)

Terlepas dari harapan yang memotivasi kita dalam membina anak-anak, lebih jauh di dalam Al Qur’an surat At Tahrim orang-orang beriman diperintah oleh Alloh SWT untuk menjaga dirinya dan membina keluarganya agar selamat dunia akhirat yaitu:

$pkr’¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ

(Q.S. At Tahrim: 6)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Bahkan kita para orang tua mempunyai andil dalam menentukan umat manusia dimasa yang akan datang, bagaimana para orang tua membina anak-anaknya sehingga menjadi hamba Alloh yang faqih dan mengerti hukum-hukum Alloh dan Rasulnya.

هَلاََكَ اُمَّتِي عَلَي يَدَيْ اُغَيْلِمَةٍ سُفَهَاء

(رواه البخاري)

Artinya: Rusaknya umatku disebabkan karena generasi muda yang tidak faham agama

Jika kita gagal membina anak-anak kita, maka umat yang akan datang akan terdiri dari manusia-manusia sufaha yang tidak lain adalah anak-anak kita yang telah beranjak menjadi dewasa. Sehingga tatanan kehidupan saat itu tidak mengerti larangan dan perintah Alloh dan Rasul, tidak mengenal halal harom, tidak mengerti mana haq mana bathil, tidak tahu batas mahrom dan bukan mahrom. Kalau hal ini terjadi maka rusaklah umat Nabi Muhammad SAW dan atas keajadian ini nanti di akhirat kita sebagai para orang tua akan dimintai pertanggung jawaban bagaimana kita telah membina anak-anak kita sehingga menyebabkan rusaknya umat. Sehingga karena kelalaian kita sendiri dalam membina keluarga telah menjadikan anak dan istri kita menjadi BOOMERANG bagi kita di akhirat. Naudzubilah min dzalik.

$pkr’¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä cÎ) ô`ÏB öNä3Å_ºurør& öNà2Ï»s9÷rr&ur #xrßtã öNà6©9 öNèdrâx÷n$sù 4 bÎ)ur (#qàÿ÷ès? (#qßsxÿóÁs?ur (#rãÏÿøós?ur  cÎ*sù ©!$# Öqàÿxî íOÏm§ ÇÊÍÈ

(Q.S. At Taghobun:14)

Artinya: “Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tetapi jika kita berhasil membina anak-anak kita menjadi anak-anak yang shaleh dan taat pada ketentuan Alloh dan Rasulnya, maka itu merupaka investasi yang luar biasa besarnya untuk bekal kita menghadap Sang Khaliq.

اِذَ مَاتَ الاِ نْسَانُ اَنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلَهُ اِلاَّ مِنْ ثََلاَثٍ صَدَقَةٍجَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍصَا لِحٍ يَدْ عُوْلَهُ

(رواه الترمذي  ج ٢  ص ٤١٨)

Artinya: “Ketika manusia meninggal, maka putuslah pengamalannya kecuali 3 hal (yaitu) Shadaqoh Jariyyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.”

Demikian sedikit ungkapan hati ini, semoga memberi manfaat dan barokah bagi kita semua yang membacanya, tidak lain semua ini disampaikan sebagai menjalankan perintah Alloh SWT untuk saling berwasiat yang baik dan saling menasihati.

öÏj.sur ¨bÎ*sù 3tø.Ïe%!$# ßìxÿZs? úüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÎÎÈ

(Q.S. Adzariat: 55)

Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

الحمد لله جز كم الله خيرا




Sejuta Rintangan, Bermilyar Pertolongan

13 06 2009
Laa tahzan, Innallaha ma'anna

Laa tahzan, Innallaha ma'anna

Oleh: Mulyana Iskandar

Setiap kebenaran harus melewati sebuah ujian.

ingatkan apa yang dikatakan Waraqah pada Rasulullah ketika Rasul ketakutan setelah berjumpa dengan Namus ketika menerima wahyu pertama( Waroqoh:paman khadijah,seorang rahib ahli injil& taurat ahltauhid yang menerjemahkan taurat dari  bahasa Ibrani ke bahasa Arab dan menerjemahkan injil dari bahasa Aramaik/latin ke bahasa Arab).

Waroqoh berkata pada Rasulullah: ‘ lam ya’ti rojulun qottun bimitsli ma ji’ta bihi illa ‘uudiya , wain yudrikni yaumuka, anshoruka nasron muazaron” —-belum ada orang yang seperti engkau (menerima wahyu/kebenaran) yang tidak dimusuhi, seandainya aku menjumpai hari itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga.

jadi memang sudah dalilnya dakwah itu akan melewati ribuan rintangan. tapi ingat kaidah perjuangan dakwah ” sejuta rintangan, semilyar pertolongan”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa ada golongan dari umatku yang membela kebenaran (sunnah). Tidaklah membahayakan mereka orang yang menghinanya sampai datang ketentuan Allah pada hari kiamat”. (HR. Muslim).

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢)وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan [saja] mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta

jadi benar juga apa yang dikatakan seorang ahli bijak dari Jerman Arthur chopenhauer yang mengatakan

…..Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan……

dan sebuah syair yang berbunyi

Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia,
Maka Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menyebarkannya,
Seandainya bukan karena nyala api yang merayap,
Maka tidak diketahui wanginya bau kayu wangi

semoga dakwah Quran dan Hadits bisa terus eksis illayaumilqiyamah, amiin